Hello world!

6 Mar

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Iklan
5 Mar

MADU-DANGDUT

BENTUK NEGARA DAN BENTUK KENEGARAAN

30 Okt

MAKALAH
BENTUK NEGARA DAN BENTUK KENEGARAAN

 

OLEH
FIKI OKBERTA
  
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
 NEGARA KESATUAN :  bentuk negara yang merdeka dan berdaulat, dengan satu Pemerintahan Pusat yang berkuasa dan mengatur seluruh daerah.
1.      Negara Kesatuan dengan Sistem Sentralisasi: sistem pemerintahan yangseluruh persoalan terkait dengan negara langsung diatur dan diurus olehPemPus, sementara daerah-daerah tinggal melaksanakannya.
2.      Negara Kesatuan dengan Sistem Desentralisasi: kepala daerah diberikankesempatan dan kekuasaan untuk mengurus rumah tangganya sendiridikenal OTONOMI DAERAH (SWATANTRA). 
NEGARA SERIKAT (FEDERAS): kekuasaan asli dalam NegaraFederasi merupakan tugas Negara Bagian, karena berhubungan langsungdengan rakyatnya. Sementara Negara Federasi bertugas untuk menjalankanhubungan Luar Negeri, Pertahanan Negara, Keuangan, dan Urusan Pos
B.       Rumusan Masalah
1)      Bagaimana Suatu Negara Kesatuan?
2)      Apa Pengertian Negara Serikat?
3)      Bagaimana Bentuk Kenegaraan?
BAB II
ISI dan PEMBAHASAN
1.        Bentuk Negara
Bentuk negara yang terpenting dan banyak dianut berbagai negara di dunia, dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu Negara Kesatuan dan Negara Serikat.
a.      Negara Kesatuan.
Adalah negara yang kekuasaan untuk mengurus seluruh pemerintahan ada ditangan pemerintah pusat atau negara yang pemerintah pusatnya memegang/mengendalikan kedaulatan sepenuhnya baik kedalam maupun keluar. Negara kesatuan memiliki ciri–ciri yaitu hanya ada satu UUD, satu kepala negara, satu kabinet, satu parlemen.
Negara kesatuan ada 2 (dua) macam :
  1. Negara kesatuan sistem Sentralisasi.
  2. Negara kesatuan sistem Desentralisasi.
Negara Kesatuan Sistem Sentralisasi :
Adalah negara kesatuan yang semua urusan pemerintahannya diatur dan diurus oleh pemerintah pusat, sedangkan daerah hanya tinggal melaksanakan saja semua kebijaksanaan yang ditetapkan pemerintah pusat. Contoh : Jerman pada masa Hitler.
Kebaikan/kelebihan negara kesatuan sistem sentralisasi :
  1. Adanya keseragaman (uniform) peraturan di seluruh wilayah negara.
  2. Adanya kesederhanaan hukum.
  3. Semua pendapatan negara baik yang diperoleh daerah maupun pusat dapat digunakan oleh pemerintah pusat untuk kepentingan seluruh wilayah.
Kelemahan/Keburukan negara kesatuan sistem sentralisasi :
  1. Pekerjaan pemerintah pusat menumpuk, sehingga banyak persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan segera.
  2. Peraturan yang dibuat pemerintah pusat belum tentu semuanya sesuai bagi daerah karena setiap daerah memiliki situasi dan kondisi yang berbeda–beda.
  3. Keputusan pemerintah pusat sering terlambat.
  4. Demokrasi tidak berkembang ke daerah–daerah karena rakyat daerah tidak diberi kesempatan memikirkan dan memajukan daerahnya sendiri.
Negara Kesatuan sistem Desentralisasi :
Adalah negara kesatuan yang semua urusan pemerintahannya tidak diurus sepenuhnya oleh pemerintah pusat, melainkan sebagian urusan pemerintahannya didelegasikan atau diberikan kepada daerah–daerah untuk menjadi urusan rumah tangga daerah masing–masing. Dalam negara kesatuan sistem desentralisasi daerah berstatus sebagai daerah otonom. Contoh Indonesia berdasarkan ketentuan pasal 18 UUD 1945 menganut sistem desentralisasi.
Kebaikan negara kesatuan sistem desentralisasi :
  1. Tugas pemerintah pusat menjadi ringan.
  2. Daerah dapat mengatur daerahnya dengan sebaik–baiknya sesuai dengan kondisi dan situasi masing–masing.
  3. Demokrasi dapat berkembang ke daerah–daerah.
  4. Peraturan yang dibuat pemerintah daerah akan sesuai dengan kondisi daerahnya.
  5. Pembangunan di daerah akan berkembang.
  6. Partisipasi dan tanggung jawab rakyat terhadap daerahnya akan meningkat.
Kelemahan negara kesatuan sistem desentralisasi :
  1. Peraturan daerah di seluruh wilayah negara tidak seragam.
  2. Timbulnya peraturan daerah yang bermacam–macam, sehingga sulit untuk dipelajari.
b.      Negara Serikat.
Adalah suatu negara yang terdiri dari beberapa negara bagian dengan pemerintah pusat (federal) yang menyelenggarakan kedaulatan keluar, sedangkan kedaulatan kedalam tetap ada pada pemerintah negara bagian.
Dalam negara serikat ada dua macam Pemerintahan yaitu :
  1. Pemerintah Federal : Biasanya pemerintah federal mengurusi hal–hal yang berhubungan dengan hubungan luar negeri, keuangan, pertahanan negara dan pengadilan.
  2. Pemerintah negara bagian : Di dalam negara serikat, setiap negara bagian diperkenankan memiliki  Undang–Undang Dasar, Kepala negara, Parlemen dan Kabinet sendiri.
Contoh negara serikat : AS, Australia, Kanada, Swiss, Indonesia masa KRIS 1949.
Persamaan antara negara kesatuan sistem desentralisasi dengan negara serikat :
  1. Keduanya pemerintah pusatnya sama–sama memegang kedaulatan keluar.
  2. Daerah–daerah bagiannya sama–sama mempunyai hak otonom.
Perbedaan antara negara kesatuan sistem desentralisasi dengan negara serikat :
No.
Negara Kesatuan sistem Desentralisasi
Negara Serikat
1.
Hak otonom daerahnya diperoleh dari pemerintah pusat.
Hak otonom negara bagiannya merupakan hak asli.
2.
Daerah bagiannya berstatus daerah otonom.
Daerah bagiannya berstatus negara.
3.
Daerah otonom tidak memiliki wewenang membuat undang–undang.
Negara bagian memiliki wewenang mem buat undang–undang.
4.
Wewenang membuat UUD hanya ada ditangan  pemerintah pusat.
Wewenang membuat UUD ada pada pemerin tah federal dan pemerintah negara bagian.
5.
Kekuasaan pemerintah pusat merupakan asli.
Kekuasaan pemerintah federal berasal dari masing–masing negara bagian.
6.
Kekuasaan mengatur rumah tangga yang dimiliki daerah relatif terbatas.
Negara bagian memiliki kekuasaan mengatur rumah tangga daerahnya relatif luas.
2.  Bentuk Kenegaraan
Disamping bentuk negara tersebut di atas, dalam sejarah ketatanegaraan juga terdapat bentuk–bentuk kenegaraan. Bentuk kenegaraan yang pernah ada antara lain :
1.      Serikat Negara (Konfederasi) :
Adalah perserikatan beberapa negara yang merdeka dan berdaulat penuh baik kedalam maupun keluar. Pada umumnya Konfederasi dibentuk berdasarkan perjanjian untuk mengadakan kerjasama dalam bidang tertentu, misalnya penyelenggaraan politik luar negeri, pertahanan keamanan bersama. Konfederasi bukanlah merupakan negara dalam pengertian hukum internasional, karena negara–negara anggotanya secara masing–masing tetap mempertahankan kedudukan nya secara internasional. Contoh konfederasi : Persekutuan Amerika Utara (1776 – 1787).
Konfederasi (Serikat Negara) dengan Negara Serikat mempunyai perbedaan yang prinsipil yaitu :
No.
Konfederasi
Negara Serikat
1.
Kedaulatan tetap dipegang oleh masing–masing negara anggota.
Kedaulatan ada pada negara federal.
2.
Keputusan yang diambil konfederasi tidak dapat langsung mengikat kepada warga negara dari negara–negara ang–gota.
Keputusan yang diambil pemerintah federal dapat langsung mengikat kepada warga negara dari negara– negara bagian
3.
Negara–negara anggota dapat memisah kan diri.
Negara–negara bagian tidak boleh me–misahkan diri dari negara serikat.
4.
Hubungan antar negara anggota diatur melalui perjanjian.
Hubungan antar negara bagian diatur dengan undang–undang dasar.
5.
Tidak ada negara diatas negara
Terdapat negara dalam negara.
2.      Koloni.
Adalah negara yang berada di bawah kekuasaan negara lain.
Contoh : Indonesia sebelum 17 Agustus 1945.
3.      Trustee (Perwalian).
Adalah negara yang pemerintahannya berada di bawah pengawasan Dewan Perwalian PBB. Munculnya Trustee merupakan hasil perjanjian San Francisco sesudah perang dunia II.
Menurut Piagam PBB, perwalian meliputi :
  1. Daerah–daerah mandat dahulu.
  2. Daerah–daerah yang dipisahkan dari negara–negara yang kalah dalam perang dunia II.
  3. Daerah–daerah yang secara sukarela menyerahkan urusan pemerin-tahannya kepada Dewan Perwalian PBB.
Tujuan Perwalian adalah untuk meningkatkan kemajuan rakyat daerah trustee dibidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan serta perkembangan hak asasi manusia menuju pemerintahan sendiri.
Contoh Daerah Perwalian :
  • Tanzania menjadi perwalian PBB sejak tahun 1945 dan merdeka tahun 1962.
  • Namibia menjadi perwalian PBB sejak tahun 1967 dan merdeka 1990.
4.      Mandat.
Adalah negara bekas jajahan negara–negara yang kalah dalam Perang Dunia I, yang diletakkan dalam pemerintahan mandat dari negara–negara yang menang perang di bawah pengawasan Dewan Mandat Liga Bangsa–Bangsa. Contoh : Kamerun bekas jajahan Jerman menjadi Mandat Perancis.
5.      Dominion.
Adalah negara–negara bekas jajahan Inggris yang telah merdeka dan berdaulat, yang tergabung dalam ikatan The British Commonwealth of Nation atau Negara–negara Persemakmuran. Contoh : Kanada, Australia, Selandia Baru, India, Afrika Selatan dan Malaysia.
6.      Uni.
Adalah gabungan dua negara atau lebih yang dikepalai seorang raja.
Ada 2 (dua) macam uni :
  1. Uni Personil : Uni yang terjadi apabila dua negara yang tergabung secara kebetulan mempunyai kepala negara yang sama. Contoh : Uni Belanda – Luxemburg (1839 – 1890), Uni Inggris – Skotlandia (1603 – 1707).
  2. Uni Riil : Uni yang terjadi apabila negara–negara yang tergabung memiliki kelengkapan negara yang sama untuk menyelenggarakan kepentingan bersama, yang dibentuk melalui perjanjian.
7.      Protektorat.
Adalah negara yang berada dibawah perlindungan negara lain. Dalam protektorat masalah hubungan luar negeri dan pertahanan keamanan diserahkan kepada negara pelindungnya berdasarkan perjanjian bersama. Contoh : Monaco sebagai protektorat Perancis, Tibet sebagai protektorat China.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
            Negara Kesatuan adalah Negara yang kekuasaan untuk mengurusseluruh pemerintahan ada ditangan pemerintah pusat atau Negara, satucabinet, satu parlemen. Negara Serikat adalah suatu Negara yang terdiri dari beberapa Negara bagian dengan pemerintah pusat (federal) yang menyelenggarakan kedaulatankeluar, sedangkan kedaulatan kedalam tetap ada pada pemerintah Negara bagian.Bentuk Kenegaraan adalah disamping bentuk Negara, dalam sejarahketatanegaraan juga terdapat bentuk ± bentuk kenegaraan.
B.       Saran
Dengan membaca makalah ini, pembaca disarankan agar bisamengambil manfaat tentang pentingnya unsur-unsur terbentunya Negara, bagi bangsa dan Negara Indonesia dan diharapkan dapat diterapkan dalamkehidupan bermasyarakat sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berjalan dengan baik.

A. Dasar-Dasar Qurani Dan Sejarah Kemunculan Persoalan-Persoalan Ilmu Kalam

27 Okt

BAB I
PENDAHULUAN
Apabila kita melihat zaman sekarang banyak orang-orang yang mengejar kemewahan dunia, dan berlebih-lebihan dalam mencintai keindahan dunia seolah-olah akan hidup selamanya di dunia ini. Namun, pada akhirnya mereka menyesal setelah mendapat suatu musibah dan banyak yang sadar karena kesenangan dunia itu tidak bisa membuat orang tenang dan tentram. Dengan demikian mereka mancari ketenangan dan kedamaian yang dibutuhkan oleh sentuhan-sentuhan spiritual atau rohani yang bisa diperoleh dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dalam makalah ini penulis mencoba membahas sedikit tentang dasar atau landasan-landasan yang sering digunakan oleh para sufi dalam bertasawuf. Landasan Al-Qur’an dan Hadist merupakan acuan pokok yang selalu dijadikan oleh umat Islam untuk berbuat dan bertindak.
Dalam penulisan makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, sebagai manusia biasa yang  tidak pernah luput dari salah dan lupa, makalah ini juga belum bisa dikatakan sempurna. Oleh sebab itu, pemakalah meminta kepada Bapak Dosen dan rekan-rekan mahasiswa agar memberikan kritik dan saran agar makalah ini nanti lebih baik dan sempurna bahasannya.
Atas kritik dan saran-saran yang diberikan Bapak Dosen ataupun rekan-rekan mahasiswa, pemakalah lebih dulu mengucapkan terima kasih banyak, sehingga makalah ini nanti bisa lebih bagus.
BAB II
PERMASALAHAN
Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari kita sering mendengar pertanyaan-pertanyaan yang meminta atas landasan atau dasar apa kita berbuat sesuatu. Ataupun langsung orang lain bertanya kepada kita apa dasar al-Qur’an dan hadistnya anda berkata demikian? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering dilontarkan kepada kita ketika orang itu menerima atau menemukan persoalan-persoalan yang baru atau persoalan-persoalan yang unik yang mereka temui.
Oleh sebab itu landasan atau dasar-dasar tasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadis urgen untuk dibahas. Karena tanpa kajian yang khusus kita tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena masa modern ini kita harus lebih banyak mengkaji dan berpegang kepada Al-Qur’an dan Hadis yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad sebagai pedoman bagi kita supaya kita tidak terbawa arus globalisasi yang semakin merajalela ini.
BAB III PEMBAHASAN
A.       Dasar-Dasar Qurani Dan Sejarah Kemunculan Persoalan-Persoalan Ilmu Kalam
1.        Nama dan Pengertian Ilmu Kalam           
Ilmu kalam sering juga disebut Ilmu Ushuluddin, Menurut beberapa tokoh,pengertian ilmu kalam adalah sebagai berikut;

a.  Musthafa Abdul Raziq
“Ilmu Kalam yang berkaitan dengan akidah imam ini sesungguhnya dibangun diatas argumentasi –argumentasi rasional atau ilmu yang berkaitan dengan akidah imam ini bertolak atas bantuan nalar.”
b.  Al Farabi
“Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang membahas tentang dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berdasarkan doktrin Islam. Stressing akhirnya adalah memproduksi ilmu Ketuhanan secara filosofis.”
c.  Ibnu Khaldun
“Ilmu Kalam adalah disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imami yang diperkuat dalil-dalil nasional.”
Dari bebepa keterangan diatas bisa disimpulkan bahwa ilmu kalam yaitu ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika serta filsafat.
2.        Sumber-Sumber Ilmu Kalam
• Al-Qur’an
• Al- Hadist
• Pemikiran manusia
• Insting
3.        Sejarah Kemunculan Persoalan-Persoalan Kalam.
Menurut Harun Nasution, kemunculan persoalan kalam dipicu oleh persoalan politik yang menyangkut peristiwa pembunuhan Ustman bin Affan yang beruntut pada persoalan Muawiyah atas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang mengkristal menjadi perang Siffin yang kemudian menghasilkan keputusan tahkim.
Persoalan kalam yang pertama kali muncul adalah persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir, dalam arti siapa yang keluar dari Islam dan siapa yang tetap Islam. Sehingga persoalan ini menimbulkan beberapa aliran antara lain;
• Aliran Khawarij
• Aliran Murjiah
• Aliran Mu’tazilah
• Airan Qodariyah
• Aliran Jabariyah
• Aliran Asy’ariyah(Abu Al Hasan Al Asy’ari)
• Aliran Maturidiyah (Abu Mansur M. Al Maturidi)

Aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah keduanya sering disebut Ahlussunah wal jamaah.
B.       Kerangka Berpikir Aliran-Aliran Ilmu Kalam
Perbedaan metode berfikir secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu kerangka berfikir rasional dan kerangka berfikir tradisional.
Metode berpikir rasional memiliki prinsip-prinsip, sebagai berikut:
Ø  Hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan tegas dan jelas disebut dalam Al Quran dan Hadist, yaitu ayat yang Qoth’i.
Ø  Memberikan kebebasan pada manusia dalam berbuat dan berkehendak serta mendirikan daya yang kuat kepada akal Mu’tazilah.
Metode berpikir tradisional memiliki prinsip-prinsip, sebagi berikut:
Ø  Terikat pada dogma-dogma dan ayat-ayat yang mengandung arti dzanni.
Ø   Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.
Ø  Memberikan daya yang kecil kepada akal.
Asy’ariyah
Perbedaan kerangka berpikir dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam.
1.      Aliran Antroposentris
Menganggap bahwa hakikat realitas transenden bersifat intrakosmos dan personal.
2.      Teolog Teosentris
Hakikat realitas transenden bersifat suprakosmos personal dan ketuhanan.
3.      Aliran Konvergensi / Sintesis
Hakikat realitas transenden bersifat supra sekaligus intrakosmos, personal dan impersonal.
4.      Aliran Nihilis
Hakikat realitas transendental hanyalah ilusi.
C.       Hubungan Ilmu Kalam, Filsafat Dan Tasawuf
A.      Titik Persamaan
 Ketiga ilmu tersebut membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhanan.
• Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran.
B.       Titik Perbedaan
Perbedaan diantara ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya.
• Ilmu kalam
o    Sebagai ilmu yang menggunakan logika (disamping argumentasi-argumentasi maqliyah).
o    Berfungsi untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama yang sangat tampak nilai-nilai apologinya.
o    Berisi keyakinan keyakinan agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional.
o    Bermanfaat sebagai ilmu yang mengajak orang yang baru untuk megenal rasio sebagai upaya untuk mengenal Tuhan secara rasional.
o    Ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadaliyah/ dialog keagamaan).
o    Berkembang menjadi teologi rasional dan tradisional.
• Filsafat
o    Sebuah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional.
o    Menggunakan metode rasional.
o    Berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan konsep-konsep.
o    Berperan sebagai ilmu yang mengajak kepada orang yang mempunyai rasio secara prima untuk mengenal Tuhan secara lebih bebas melalui pengamatan dan kajian alam dan ekosistemnya secara langsung.
o    Berkembang menjadi sains dan filsafat sendiri.
o    Kebenaran yang dihasilkan ilmu filsafat : kebenaran korespomdensi, koherensi, dan fragmatik.
• Tasawuf
o    Lebih menekankan rasa daripada rasio.
o    Bersifat subyektif, yakni berkaitan dengan pengalaman.
o    Kebenaran yang dihasilkan adalah kebenaran Hudhuri.
o    Berperan sebagai ilmu yang memberi kepuasan kepada orang yang telah melepaskan rasionya secara bebas karena tidak memperoleh apa yang ingin dicarinya.
o    Berkembang menjadi tasawuf praktis dan teoritis.
C. Titik Singgung Antara Ilmu Kalam dan Ilmu Tasawuf
• Ilmu Kalam
o    Dalam ilmu kalam di temukan pembahasan iman yang definisinya, kekufuran dan menifestasinya serta kemunafikan dan batasannya.
o    Ilmu kalam berfungsi sebagai pengendali ilmu tasawuf.
o    Ilmu kalam dapat memberikan kontribusi kepada ilmu tasawuf.
• Ilmu Tasawuf
o   Ilmu tasawuf merupakan penyempurnaan ilmu tauhid (ilmu kalam).
o   Ilmu tasawuf berfungsi sebagai wawasan spiritual dalam pemahaman kalam.
o   Ilmu tasawuf mempunyai fungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan–perdebatan kalam.
o   Amalan-amalan tasawuf mempunyai pengaruh yang besar dalam ketauhidan.
o   Dengan ilmu tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu tauhid (ilmu kalam) terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi lebih dinamis dan aplikati.
o    
BAB IV
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari uraian di atas maka penulis dapat menarik berbagai poin kesimpulan yang merupakan intisari dari pembahasan ini, yaitu :
ü  Al-Qur’an merupakan dasar-dasar para sufi dalam bertasawuf kedudukannya sebagai ilmu tentang tingkatan  (maqam) dan keadaan (ahwal).
ü  Selain Al-Qur’an dan Hadis juga merupakan landasan dalam tasawuf sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah di Gua Hira yakni tafakkur, beribadah, dan hidup sebagai seorang zahid, Beliau hidup sangat sederhana, terkadang mengenakan pakaian tambalan, tidak makan dan minum kecuali yang halal, dan setiap malam senantiasa beribadah kepada Allah SWT.
ü  Dikalangan para sahabat juga banyak yang mempraktekkan tasawuf sebagaimana yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW.
ü  Untuk menjadi seorang sufi kita harus bisa meninggalkan segala yang menyangkut dengan sifat kebendaan dan senantiasa bertaubat serta mendekatkan diri kepada-Nya untuk mencapai ridha Allah SWT.
B.       Saran
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon dan Mukhtar Solihin. Ilmu Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia, 2006.
Departemen Agama RI.  Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung : Diponegoro,
2005.
Rahmat, Jalaluddin. Meraih Cinta Ilahi ; Pencerahan Sufistik, Bandung:Remaja
Rosdakarya, 2001.
Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha, Missi Suci Para Sufi, Yogyakarta : Mitra
Pustaka, 2002.
Shayk Ibrahim Gazuri Ilahi, Anal Haqq, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996.
Shihab,  Quraish. Tafsir al-Misbah, Jakarta : Lentera Hati, 2001.

ILMU MUNASABAH

13 Okt

BAB I PENDAHULUAN
1.1.       Latar belakang
Sebagai kitab suci Islam, Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang ditujukan untuk semua manusia. Dan sebagai sebuah kitab suci, metode memahami Al-Qur’an akan berbeda dengan buku-buku atau kitab-kitab lainnya, baik dalam hal elaborasi, sistematika, isi, metode bacaan maupun tempat-tempat dan pokok ajarannya. Oleh karena itu diperlukan beberapa disiplin ilmu, diantaranya adalah ilmu-ilmu munasabah Al-Qur’an.
Ilmu ini membahas korelasi antara ayat dengan ayat lainnya atau antara surat dengan surat lainnya. Kalau sebab nuzul mempunyai pengaruh besar terhadap pemahaman makna dan tafsir suatu ayat, maka pemahaman terhadap munasabah tidak kalah pentingnya dalam upaya penafsiran ayat secara sempurna. Dan munasabah dalam hal ini tidak selalu memiliki hubungan yang jelas, tetapi juga ada yang samar sehingga membutuhkan kejelian dan pemahaman yang mendalam terhadap pemahaman ayat dengan ayat maupun surat dengan surat. Dengan demikian pendalaman terhadap ilmu ini sangat menarik karena tinjauan tentang hal ini belum terlalu banyak dibahas dalam studi ilmu Al-Qur’an.
Kebutuhan para ulama didasarkan atas belum berkembangnya pembahasan ilmu ini secara sempurna. Kebanyakan pembahasan para ahli ilmu-ilmu Al-Qur’an masih memasukkan munasabah ke dalam bagian sebab nuzul.


BAB II MUNASABAH AL-QUR’AN

2.1.  Pengertian

Secara etimologis, al-munasabah berarti al-musyakalah dan al-muqorobah yang berarti “saling menyerupai” dan “saling mendekati” (menurut As-Suyuthi).
Menurut pengertian terminologis, munasabah dapat diartikan sebagai berikut :
  1. Menurut Az-Zarkasyi
Artinya :
Munasabah adalah sesuatu hal yang dapat dipahami, tatkala dihadapkan kepada akal, pasti akal itu akan menerimanya.
  1. Menurut Manna’ al-Qatthan
Artinya :
Munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surat (di dalam Al-Qur’an)
  1. Menurut Ibnu al-‘Arabi
Artinya :
Munasabah adalah keterikatan antara ayat-ayat Al-Qur’an sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.
  1. Menurut Al-Biqa’i
Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur’an, baik ayat dengan ayat atau surat dengan surat.
Jadi dalam konteks ulum Al-Qur’an, munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum atau bersifat khusus, persepsi, kausalitas, dan sebagainya.

1.      Macam-Macam Munasabah

  1. Munasabah antara surat dengan surat
Surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an mempunyai munasabah, sebab surat yang datang kemudian menjelaskan sebagai hal yang disusulkan secara global pada surat sebelumnya (Al-Suyuthi). Sebagai contoh, surat Al-Baqarah memberikan perincian dan penjelasan bagi surat Al-Fatihah. Surat Ali Imran yang merupakan surat berikutnya memberi penjelasan lebih lanjut bagi kandungan surat Al-Baqarah. Selain itu munasabah dapat membentuk tema sentral dari berbagai surat. Misalnya, ikrar ketuhanan, kaidah-kaidah agama dan dasar-dasar agama merupakan tema-tema sentral dari surat Al-Fatihah, Al-Baqarah, dan Ali Imran. Ketiga surat ini saling mendukung tema sentral tersebut.
  1. Munasabah antara nama surat dengan kandungannya
Nama-nama surat dalam Al-Qur’an memiliki kaitan dengan pembahasan yang ada pada isi surat. Setiap surat mempunyai pembicaraan yang menonjol dan itu tercermin pada namanya masing-masing. Sebagai contoh dapat dilihat pada surat Al-Baqarah ayat 62-71, yang menceritakan tentang perintah Allah kepada umat Nabi Musa untuk menyembelih seekor sapi betina. 
  1. Munasabah antar kalimat dalam satu surat
Munasabah seperti ini ada kalanya memakai huruf  ‘athaf dan ada kalanya tidak. Munasabah yang memakai huruf ‘athaf biasanya mengambil bentuk radhat (berlawanan), seperti terlihat dalam ayat :
“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya” (QS. Al-Hadiid (57) : 4)
dan ayat :
Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizqi)” (QS. Al-Baqarah (2) : 245).
Kata (masuk) dan kata (keluar) dan (menyempitkan) dengan (melapangkan) dinilai sebagai ‘alaqah (hubungan) perlawana.
Dan yang tidak memakai huruf ‘athaf, sandarannya adalah qarinah ma’nawiyah (indikasi ma’nawi). Aspek ini dapat muncul dalam beberapa bentuk sebagai berikut :
a.       At-Tanzhir (membandingkan dua hal yang sebanding menurut kebiasaan orang yang berakal), misal :
“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran”. (QS. Al-Anfal : 5).
Ayat sebelumnya adalah :
“Mereka itulah orang-orang mu’min dengan sebenarnya” (QS. Al-Anfal : 4)
Di sini ada dua keadaan sebanding, sebagaimana mereka sungguh-sungguh benci atas keluarnya Nabi memenuhi perintah Allah, demikian pula mereka sungguh-sungguh tidak menentang Rasul lagi setelah beriman.
b.      Al-Mudhaddah (berlawanan), misalnya :
Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja engkau beri ingat mereka atau tidak engkau beri ingat mereka tidak akan beriman”. (QS. Al-Baqarah : 6).
Munasabahnya adalah bahwa ayat ini menerangkan watak orang kafir, sedangkan di ayat sebelumnya Allah menerangkan watak orang mu’min.
c.       Al-Istithrad (peralihan kepada penjelasan lain), misal :
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa adalah yang paling baik. Demikian itu merupakan sebagian dari tanda-tanda Allah, mudah-mudahan kamu selalu ingat”. (QS. Al-A’raf : 26).
Ayat ini menjelaskan nikmat alalh, sedang di tengahnya dijumpai sebutan pakaian taqwa yang mengalihkan perhatian untuk menoleh kepada banyaknya unsur taqwa dalam berpakaian.
d.      At-Takhallush (peralihan)
Peralihan di sini adalah peralihan terus-menerus dan tidak kembali lagi pada pembicaraan pertama. Misalnya dalam surat Al-A’raf mulai dari ayat 59 sampai ayat 157. Ayat ini mulai mengisahkan umat-umat dan nabi-nabi terdahulu secara bertahap beralih terus sampai kepada kisah nabi Musa dan berakhir pada orang-orang pengikut Nabi Muhammad Saw.
  1. Munasabah antara ayat dengan ayat dalam satu surat
Munasabah dalam bentukini secara jelas dapat dilihat dalam surat-surat pendek, misal : Al-Ikhlash, masing-masing ayat pada surat itu menguatkan tema pokoknya tentang keesaan Allah.
  1. Munasabah antara penutup ayat dengan isi ayat
Munasabah di sini bisa bertujuan :
a.       Tamkin (peneguhan), misal :
“Dan Allah menghalau orang-orang kafir yang keadaan mereka penuh kejengkelan, mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan Allah adalah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Ahzab : 25).
Sekiranya ayat ini berhenti pada “Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan” niscaya maknanya bisa dipahami orang-orang lemah, sejalan dengan pendapat orang-orang kafir yang mengira bahwa mereka mundur dari perang karena angin yang kebetulan bertiup, padahal, bertiupnya angin bukan suatu kebetulan, tetapi atas kehendak Allah. Karena itu ayat ini ditutup dengan mengingatkan kekuatan dan keperkasaan Allah Swt.
b.      Tashdir (pengembalian), misal :

“Dan mereka memikul dosa-dosa mereka di atas punggung mereka. Ingatlah amat buruk apa yang mereka pikul itu”. (QS. Al-An’am : 31).

Ayat ini ditutup dengan ………. untuk membuatnya sejenis dengan kata …. dalam ayat tersebut.

c.       Tausyih (penyelempengan), misalnya :
Satu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami tanggal-kan siang dari malam itu, maka tiba-tiba mereka berada dalam kegelapan”. (QS. Yaasin : 37).
Dalam permulaan ayat ini terkandung penutupnya. Sebab, dengan hilangnya siang akan timbul gelap. Ini berarti bahwa kandungan awal ayat seolah memakai selempang pertanda bagi akhirnya.
d.      Ighal (penjelasan tambahan dan penajaman makna), misalnya :
“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati mendengar dan tidak pula orang-orang tulis mendengar panggilan, apabila mereka berpaling membelakang”. (QS. An-Naml : 80).
Kandungan ayat ini sebenarnya sudah jelas sampai kata ad-du’a (panggilan). Akan tetapi, untuk lebih mempertajam dan mempertandas makna, ayat itu diberi sambungan lagi sebagai penjelasan tambahan.
  1. Munasabah antara awal uraian surat dengan akhir uraian surat
Munasabah di sini dapat dilihat misalnya pada surat Al-Qashash. Dalam permulaan surat menjelaskan perjuangan Nabi Musa, di akhir surat memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad Saw yang menghadapi tekanan kaumnya, dan akan mengembalikannya ke Makkah. Di awal surat, larangan menolong orang yang berbuat dosa dan di akhir surat larangan menolong orang kafir. Munasabah di sini terletak pada kesamaan situasi yang dihadapi dan sama-sama mendapat jaminan dari Allah Swt. Contoh lain dalam surat Al-Mu’minun :

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang mu’min”

Dan satu ayat sebelum akhir surat yang sama :
“Sesungguhnya orang-orang kafir tiada beruntung”.
  1. Munasabah antara akhir satu surat dengan awal surat berikut
Di antara yang jelas munasabahnya adalah antara awal surat Al-Hadid :
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana”.
Dan di akhir surat Al-Waqi’ah :
“Maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia”.
Munasabahnya adalah antara perintah bertasbih pada akhir surat Al-Waqi’ah dan keterangan bertasbihnya semua yang ada di langit dan di bumi pada awal surat Al-Hadid.

2.      Langkah-Langkah Untuk Menemukan Munasabah

As-Suyuthi menjelaskan beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk menemukan munasabah.
  1. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi obyek pencarian.
  2. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
  3. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak.
  4. Dalam mengambil kesimpulannya, hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.
  5. Apabila munasabah tersebut penuh dengan makna yang mendalam sesuai dengan siyaq, sesuai dengan dasar-dasar keilmuan bahasa Arab, maka dapat diterima sebagai munasabah yang baik.

3.      Faedah Mempelajari Munasabah

  1. Menggali mu’jizat Al-Qur’an dari segi bahasanya, kita dapat mengetahui mutu dan tingkat kebalaghahan Al-Qur’an sehingga dapat lebih meyakinkan bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat Allah bagi Nabi Muhammad Saw.
  2. Memperluas wawasan para mufassir untuk memahami makna yang di kandungnya, sehingga akan memperdalam pengetahuan terhadap kitab Al-Qur’an.
  3. Dengan mengetahui munasabah akan sangat membantu dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga mempermudah istinbath hukum maupun penjelasan hukumnya.
  4. Dengan mempelajari munasabah kita dapat mengetahui prinsip-prinsip kalam yang dipakainya.
Menurut Imam Zarkasyi, beliau berkata : Faedahnya menjadikan bagian-bagian kalam sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya, maka tampak terlihat kekuatan hubungannya, dan jadilah karangan tersebut menjadi sebuah upaya pembangunan jiwa yang utuh. 
BAB III PENUTUP
3.1.       Kesimpulan
Dengan ilmu munasabah itu dapat diketahui mutu dan tingkat kebahagiaan bahasa al-Qur’an dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lain. Serta persesuaian ayat atau suratnya yang satu dengan yang lain, sehingga lebih meyakinkan kemukjizatannya, bahwa al-Qur’an itu betul-betul wahyu dari Allah SWT, dan bukan buatan Nabi Muhammad Saw. Karena itu imam Arrazi mengatakan, bahwa kebanyakan keindahan-keindahan al-Qur’an itu terletak pada susunan dan persesuaiannya, sedangkan susunan kalimat yang paling baligh (bersastra) adalah yang sering berhubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.
3.2.       Saran
Semoga pembaca makalah ini bisa mempelajari dan mengamalkan arti dari munasabah tersebut.

ILMU QIRA’AT AL-QUR’AN

13 Okt

<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

BAB I PENDAHULUAN
I.             Latar belakang
Membahas salah satu cabang dalam ulumul Qur’an yakni ilmu Qira’at al-Qur’an tidak terlepas dengan apa yang disebut dengan Sab’ah Ahruf (Tujuh Huruf). Dalam satu riwayat, Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya al-Qur’an ini telah diturunkan dalam Tujuh Huruf, maka bacalah olehmu mana yang mudah dari padanya”[1]
Para ulama berbeda pendapat tentang makna ‘Tujuh Huruf’ pada hadits di atas. Diantara perbedaan tersebut adalah :[2]
1.            Al-Qur’an mengandung tujuh bahasa Arab yang memiliki satu makna.
2.            Tujuh dialek bahasa kabilah Arab yaitu Qurays, Hudzail, Tamim, Tasqif, Hawazin, Kinanah dan Yaman.
3.            Tujuh aspek kewahyuan seperti perintah, larangan, janji, halal, haram, muhkam, mutasyabih dan amtsal.
4.            Tujuh perubahan perbedaan yaitu ism, i’rab, tashrif, taqdim dan ta’khir, tabdil dan tafkhim.
5.            Tujuh huruf diartikan bilangan yang sempurna seperti 70, 700, 7000 dan seterusnya.
6.            Tujuh Qira’at yang disebut dengan Qira’ah Sab’ah.
7.            Tujuh huruf diartikan tujuh bangsa selain bangsa Arab seperti Yunani, Persia dan lain-lain.[3]
Dari perbedaan pendapat di atas, yang paling kuat adalah pendapat pertama, yaitu al-Qur’an mengandung tujuh bahasa Arab yang memiliki satu makna, seperti aqbil, ta’al, halumma, ‘ajjil, asri’ yang memiliki satu makna yaitu ‘datang kemari’. Contoh lain terdapat pada rasm utsmani dalam surat al-Ma’idah ayat 82 : kata qissiisiina yang berarti para rahib (pendeta), berbeda dengan bacaan ‘Ubay bin Ka’b, yaitu shiddiiqiina (yang membenarkan). Dua perbedaan ini dibenarkan oleh Nabi SAW.[4] Begitu juga pada surat al-Baqarah ayat 9, kata ‎yukhaadi’u tertulis dalam al-Qur’an Jordania, yakhda’uuna.[5]
Qira’at al-Qur’an, khususnya istilah ‘qira’ah sab’ah’ sering dimaknai dan dikorelasikan identik dengan ‘Tujuh Huruf’, tetapi pendapat ini tidak kuat. Meski demikian, istilah ‘Tujuh Huruf’ merupakan salah satu sebab munculnya multiple reading (banyak bacaan) al-Qur’an.[6]
BAB II PEMBAHASAN
2.1.   Arti Penting tetang Qira’at
Secara etimologi, kata qira’ah berarti ‘bacaan’, dari kata qara’a – yaqra’u – qira’atan.[7] Kata qira’ah berbentuk tunggal, dalam studi ilmu al-Qur’an, ia ditempatkan dalam bentuk jamak karena pembahasannya mencakup banyak jenis qira’ah (bacaan).
Secara terminologi, qira’at adalah salah satu aliran dalam pelafalan/pengucapan al-Qur’an oleh salah seorang imam Qurra’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam hal ucapan al-Qur’an serta disepakati riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf maupun dalam pengucapan lafadznya.[8] Secara praktis, qira’at disandarkan kepada salah satu imam Qurra’ yang tujuh, sepuluh dan empat belas.[9]
Qira’at sebagai satu sistem bacaan menjadi sangat vital bagi para pembacanya, terlebih lagi al-Qur’an merupakan sumber pokok rujukan dalam segala hal bagi pemeluk agama Islam. Teks wahyu yang diturunkan dalam bentuk lisan, diajarkan oleh Nabi SAW dalam cara yang sama, meski tetap ada usaha dalam bentuk penulisan teks al-Qur’an tersebut. Tetapi, dalam praktek dominan, metode ajar secara lisan tetap menjadi metode utama hingga saat ini. Itulah mengapa dalam sejarahnya, al-Qur’an banyak mengalami ragam cara baca, sesuai dengan dialek Arab yang ada saat itu.
Jika al-Qur’an merupakan inti ajaran Islam, maka ilmu Qira’at menjadi sebuah sunnah yang harus dipegang, sebagaimana Nabi SAW selalu menjaga orisinalitas al-Qur’an dengan cara memanggil para sahabat penghafal al-Qur’an untuk kemudian mengulang dan mengingat kembali bacaannya.[10] Zaid bin Thabit, orang yang begitu penting dalam pengumpulan Al-Qur’an, menyatakan bahwa “al-Qira’ah sunnatun muttaba’ah” (Seni bacaan (qira’at) Al-Qur’an merupakan sunnah yang mesti dipatuhi dengan sungguh-sungguh).[11]
Dalam satu riwayat, Nabi SAW bersabda : “Ambillah (belajarlah) al-Qur’an dari empat orang : Abdullah bin Mas’ud, Salim, Muadz dan Ubay bin Ka’b”[12]
Sepeninggal Nabi SAW, ragam bacaan al-Qur’an mendapat tempat tersendiri di kalangan sahabat sesuai dengan dialek kabilah yang ada.
2.2.       Tujuan Qira’at
Cara baca al-Qur’an yang beragam, disebabkan beberapa hal utama :[13]
1. Perbedaan karena tidak ada kerangka tanda titik.
2. Perbedaan karena tidak adanya tanda diakritikal.
Ketika pemerintahan Islam meluas dimasa khalifah Utsman bin Affan, terjadi beberapa perselisihan di kalangan sahabat tentang car abaca al-Qur’an, yang mana masing-masing pihak menyatakan bacaannya adalah yang paling sahih dan benar. Kondisi ini mengancam keharmonisan umat Islam, hingga khalifah Utsman bin Affan memerintahkan para sahabat untuk menyusun dan membuat mushaf al-Qur’an. Hal ini dikenal dengan Mushaf Utsmani, yang sampai saat ini mushaf ini kita temukan, baca dan amalkan. Perlu kita ingat bahwa saat itu muncul beberapa mushaf yang berasal dari sahabat, seperti Mushaf Ali bin Abi Thalib, Mushaf Ubay bin Ka’b, Mushaf Abdullah bin Mas’ud, Mushaf Ibnu Abbas, Mushaf Zaid bin Tsabit, Mushaf Abu Musa al-‘Asy’ari dan mushaf beberapa sahabat lain yang sangat mungkin tidak kita kenal.
Qira’ah, disebutkan oleh para ahli sejarah, menjadi sebuah disiplin ilmu bermula ketika Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam (w. 224 H) menulis sebuah buku Al-Qira’at, yang termuat di dalamnya qira’at dari 25 orang rawi.[14] Di masa inilah mulai timbul kebohongan dan usaha-usaha penggantian kata atau kalimat dalam al-Qur’an, sehingga para ulama qurra’ memulai penyusunan qira’at al-Qur’an menuju kepada disiplin ilmu.
Meski sebelumnya telah ada beberapa ulama qira’ah yang terbagi kedalam beberapa kelompok yaitu :
1.            Kelompok sahabat : Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari.
2.            Kelompok Tabi’in :
a.             Madinah    : Ibnu Musayyib, Urwah, Salim, dan Umar bin Abdul Aziz
b.            Mekah       : Ubaid bin Umair, Atho’ bin Abi Robah, Thowus, Mujahid,
: Ikrimah
c.             Kufah        : ilqimah, al-aswad, masruq, ubaidah, dll
d.            Bashroh     : abu aliyah, abu roja’, qotadah, ibnu siirin
e.             Syam         : al-mughiroh, shohib utsman, dll
3.            Kelompok Ulama Qurra’ yang hidup pada pertengahan abad dua hijriyah, seperti Ibnu Katsir, Abu Ja’fah, Nafi bin Nua’im, dll.
4.            Kelompok yang meriwayatkan qira’ah dari ulama kelompok ketiga, seperti Ibnu Iyasy, Hafsh dan Khalaf.
5.            Kelompok pengkaji dan penyusun ilmu qira’ah, yaitu Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, Ahmad bin Jubair al-Kufi, Ismail bin Ishak al-Maliki, Abu Ja’far bin Jarir at-Tabari, Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Dajuni dan Abu Bakar bin Mujahid.
Abu Bakar bin Mujahid, terlahir di Baghdad tahun 245 H, memberikan penjelasan yang cukup rinci tentang ilmu qira’ah, sebagai berikut :
Pertama, macam-macam Qira’at dari segi kuantitas atau jumlahnya. Adapun sebutan qira`at dari segi jumlah qira’at ada bernacam-macam. Ada yang bernama qira`at tujuh, qira`at delapan, qira`at sepuluh, qira`at sebelas, qira`at tiga belas, dan qira`at empat belas. Tetapi dari sekian macam jumlah qira`at yang dibukukan, hanya tiga macam qira’at yang terkenal yaitu:
1.            Qira`at al-Sab’ah: ialah qira`at yang dinisbatkan kepada para imam qurra’ yang tujuh yang masyhur. [15]
No.
Tempat
Imam Qurra’
1
2
3
1
Madinah
Nafi’ (169/785)
2
Mekah
Ibn Katsir (120/737)
3
Damaskus
Ibn ‘Amir (118/736)
4
Basrah
Abu ‘Amru (148/770)
5
Kufah
‘Asim (127/744)
6
Kufah
Hamza (156/772)
7
Kufah
Al-Kisa’i (189/804)
2.            Qira`at ‘asyroh: ialah qira`at sab’ah diatas ditambah dengan tiga qira`at lagi.
No.
Tempat
Imam Qurra’
1
2
3
8
Madinah
Abu Ja’far (130/747)
9
Basrah
Ya’qub (205/820)
10
Kufah
Khalaf al-Asyir (229/843)
3.            Qira`at arba’ah asyrah: ialah qira`at ‘asyrah yang lalu ditambah dengan empat qira’ah lagi.
No.
Tempat
Imam Qurra’
1
2
3
11
Basrah
Hasan al Basri (110/728)
12
Mekah
Ibn Muhaisin (123/740)
13
Basrah
Fahya al-Yazidi (202/817)
14
Kufah
al-A’masy (148/765)
Kedua, dari segi kualitas, qira`at berdasarkan kualitas dapat dikelompokkan dalam lima bagian:
1.            Qira`at Mutawatir, yaitu qira`at yang diriwayatkan oleh orang banyak dari orang banyak yang tidak mungkin terjadi kesepakatan di antara mereka untuk berbohong.
2.            Qira`at Masyhur, yakni qira’at yang memilki sanad sahih, tetapi tidak sampai kepada kualitas mutawatir. Qira`at ini sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan tulisan
3.            Qira`at Ahad, yakni yang memiliki sanad sahih, tetapi menyalahi tulisan Mushaf ‘Utsmani dan kaidah bahasa Arab, tidak memilki kemasyhuran, dan tidak dibaca. (Qira’at Aisyah dan Hafsah, Ibn Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibn Abbas)
4.            Qira’at Syadz (menyimpang), yakni qira’at yang sanadnya tidak sahih.
5.            Qira’at Maudhu’(palsu), yaitu qira’at yang dibuat-buat dan disandarkan kepada seorang tanpadasar. Seperti qira’at yang disusun oleh Abu Al-Fadhl Muhammad bin Ja’far dan mensbtkannya kepada Imam Abu Hanifah.
6.             Qira’at Syabih bi al-mudroj, yaitu qira’at yang mirip dengan mudroj dari macam-macam hadis. Dia adalah qira’at yang didalamnya ditambah kalimat sebagai tafsir dari ayat tersebut.
Tolak ukur yang dijadikan pegangan para ulama’ dalam menetapkan qira’at yang sahih adalah sebagai berikut :[16]
a.             Bersesuaian dengan kaidah bahasa Arab, baik yang fasih atau paling fasih. Sebab, qora`at adalah sunnah yang harus diikuti, diterima apa adanya dan menjadi rujukan dengan berdasarkan pada isnad, bukan pada rasio.
b.            Bersesuai dengan salah satu kaidah penulisan Mushaf ‘Ustmani walaupun hanya kemungkinan (ihtimal) atau mendekati.
c.             Memiliki sanad yang sahih atau jalan periwayatannya benar, sebab qira`at merupakan sunnah yang diikuti yang didasarkan pada penukilan dan kesahihan riwayat.
2.3.       Faedah Keragaman Qira’at Al-Qur’an
Dalam keragaman cara baca al-Qur’an, dapat diambil beberapa manfaat yang berguna sebagai tanda keotentikan al-Qur’an :[17]
1.            Bukti yang jelas tentang keterjagaan Al-Quran dari perubahan dan penyimpangan, meskipun mempunyai banyak qiroat tetapi tetap terpelihara.
2.            Keringanan bagi umat serta kemudahan dalam membacanya, khususnya mempermudah suku-suku yang berbed logat/dialek di Arab.
3.            Membuktikan kemukjizatan Al-Quran, karena dalam qiroat yang berbeda ternyata bisa memunculkan istinbat jenis hukum yang berbeda pula.
Contoh dalam masalah ini adalah lafadhz : ” wa arjulakum” dalam Al-Maidah ayat 6, yang juga bisa dibaca dalam qiroah lain dengan “wa arjulikum “. Maka yang pertama menunjukkan hukum mencuci kedua kaki dalam wudhu. Sementara yang kedua menunjukkan hukum mengusap ( al-mash) kedua kaki  dalam khuf atau sejenis sepatu.
4.          Qiroat yang satu bisa ikut menjelaskan / menafsirkan qiroat lain yang masih belum jelas maknanya. 
Contoh masalah ini : dalam surat Jumat ayat 9, lafal ” Fas’au “, asli katanya berarti berjalanlah dengan cepat, tetapi ini kemudian diterangkan dengan qiroat lain : ” famdhou” yang berarti pergilah , bukan larilah.
2.4.    Tanda-tanda Baca Al-Qur’an
Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakr ra, Al-Quran ditulis dengan memakai khat kufi. Yaitu sebuah model khat yang sedang masyhur saat itu. Tulisan pertama Al – Quran masih polos tanpa ada tanda harakat ataupun titik.
Ketika Islam mulai tersebar ke segenap penjuru Arab, timbullah beberapa kekeliruan dalam membaca Al – Quran. Hal ini karena beragamnya dialek yang dimiliki oleh masing-masing qabilah. Akhirnya pada masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (40-60 H), Abu Aswad Ad-Duali memprakarsai pemberian tanda-tanda harakat untuk Al-Quran. Akan tetapi tanda – tanda harakat tersebut tidak sama dengan harakat yang kita kenal saat ini. Pada masa itu harakat “Fathah” ditandai dengan titik berwarna merah yang diletakkan di atas hurufnya. “Dhammah” ditulis dengan titik yang ada di depan hurufnya, “Kasrah” ditulis dengan titik yang terletak di bawah dan “Tasydid” dilambangkan dengan titik dua di atas huruf.
Sekitar tahun 65 – 86 H, Khalifah Abdul Malik bin Marwan atas saran Hajjaj bin Yusuf mulai memberi tanda titik pada huruf-huruf Al – Quran. Ia menugaskan Yahya bin Ya’mar dan Nashar bin Ashim yang merupakan murid Dari Abu Aswad Ad_Duali.
Tanda-tanda yang sudah ada pun dirasa masih kurang cukup. Dimana dengan tanda – tanda tersebut seringkali masih diketemukan terjadi kekeliruan dalam membaca al-Quran, terutama panjang – pendeknya bacaan. Maka pada tahun 162 H, Imam Khalil bin Ahmad yang tinggal di Bashrah memberi tanda yang lebih jelas. Ia memperbaharui tanda-tanda yang telah ditulis oleh Abul Aswad Ad_Duali. Dan hasilnya adalah seperti tanda-tanda Al-Quran yang kita ketahui saat ini.
Adapun perubahan khat Al Quran terjadi pada masa Al-Wasil ibnu Muqlah (272 H), seorang menteri pada Dinasti Abbasiyah. Dialah orang yang dikenal pertama kali menulis Al Quran dengan berbagai macam khat, termasuk diantaranya khat Al Quran yang kita pakai sekarang ini.
Sedangkan yang membagi Al Quran menjadi 30 juz adalah Hajjaj bin Yusuf. Ia juga memberikan tanda “Nishf” (separuh) dan “Rubu’_” (seperempat) dalam mushaf Al Quran.
2.5.       Tajwid dan Adab Membaca Al-Qur’an
a.          Pengertian Tajwid & Ilmu Tajwid
Tajwid secara bahasa artinya at-tahsiin wal ijaadah : baik dan membaguskan. Secara Istilah Tajwid berarti : [18]
التجويد هو إعطاء الحروف حقوقها و ترتيبها , و رد الحرف إلى مخرجه و أصله, و تلطيف النطق به على كمال هيئة من غير إسراف ولا تعسف ولا إفراط ولا تكلف.
Tajwid adalah : Memberikan setiap huruf hak-haknya dan susunannya, mengembalikan huruf pada makhrojnya dan asalnya, menghaluskan pelafalan pada kondisi yang sempurna, tanpa berlebihan dan pembebanan.
Sedangkan ilmu tajwid diartikan sebagai : ilmu yang menjelaskan hukum-hukum dan kaidah-kaidah yang harus dijaga pada saat membaca Al-Quran, sesuai dengan apa yang dipraktekkan kaum muslimin, dari generasi ke generasi , dari Rasulullah SAW.
    
b.            Keutamaan Tajwid
Allah SWT berfirman :
“الله نزل أحسن الحديث كتاباً متشابهاً مثاني تقشعر منه جُلودُ الذين يخشون ربهم، ثم تلين جُلودهم وقُلوبهم إلى ذكر الله” (الزمر ـ 23).
Artinya : Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. (QS Az-Zumar 23)
Pada ayat di atas diisyaratkan bahwasanya Al-Quran idealnya dibaca dengan benar, baik agar bisa mempengaruhi hati mereka yang mendengarnya. Sebaliknya, jika al-quran dibaca dengan seenaknya, maka tidak akan berpengaruh apapun bagi hati yang mendengarnya.
Rasulullah SAW bersabda : ” seorang yang pandai membaca Al-Quran akan bersama malaikat yang mulia, sedangkan yang membaca Quran dengan terbata-terbata dan kesusahan, maka baginya ada dua pahala ” (HR Bukhori & Muslim)
c.             Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Para ulama Tajwid bersepakat bahwa setiap muslim dituntut untuk mempelajari hukum-hukum tilawah, dan memperhatikannnya ketika sedang membaca al-quran. Sedangkan lalai dalam masalah ini – tanpa udzur syar’I yang bisa diterima- adalah berdosa.
d.            Objek Pembahasan Ilmu Tajwid
Objek pembahasan dalam Ilmu Tajwid, secara garis besar meliputi :
·               Hukum-hukum berkaitan dengan Nun ( Ahkamu an-Nuun)
·               Hukum-hukum berkaitan dengan Hamzah ( ahkaamu alhamzah)
·               Tata Cara Berhenti ( Kaifiyah Al-Waqf )
·               Makhorijul Huruf ( Tempat Keluar Huruf)
·               Sifat-sifat Huruf
·               Ahkamul Mad ( Panjang Pendek Harokah)
2.6.    KESALAHAN-KESALAHAN DALAM PRAKTEK TAJWID
Kesalahan dalam praktek tajwid , secara umum bisa dibagi menjadi dua bagian besar :
2.7.      Kesalahan Al-Lahn ( Kekurangan dalam pelafalan /tanpa tajwid)
Kesalahan al-lahn dibagi menjadi dua bagian ;
·               yang pertama adalah kesalahan Al-Jaliyy (yang Jelas) yaitu kesalahan pelafalan / tajwid yang diketahui oleh banyak orang awam secara umum. Misalnya adalah : salah dalam harokat ( I’rob), atau salah dalam tashrif.
·               Yang kedua adalah kesalahan Al-Khofiyy (tersembunyi), yang tidak diketahui kecuali oleh mereka yang bergelut lama di ilmu tajwid atau pakar di bidang Qiro’at. Seperti dalam masalah makhorijul huruf dan sifat-sifatnya.
2.8.      Berlebihan dalam Tajwid ( Mubalaghoh wa Ifrooth)
Berlebihan dalam pengucapan dan pelafalan Al-Quran juga sama bahayanya dengan meninggalkan tajwid. Berikut contoh-contoh kesalahan yang berhubungan dengan berlebihan dalam pengucapan al-Quran :
·               At-Tar’iid : pembacaan al-quran dengan bergetar secara berlebihan, bagaikan orang yang menggigil kedinginan atau menahan sakit.
·               At-Tarqish : berhenti dan diam pada tempat berhenti, untuk kemudian melanjutkan harokah dengan cepat seperti lari dari musuh atau terkejut.
·               At-Tathriib : pembacaan seperti musik, khususnya memanjangkan secara berlebihan pada huruf mad
·               At-Tahziin : membaca al-Quran dengan nada sedih yang berlebihan dan hampir-hampir menangis berlebihan
·               At-Tardiid : pengulangan ayat terakhir yang dibaca seorang qori’ oleh sekumpulan orang yang mendengarkannya.
Dianjurkan bagi orang yang membaca Qur’an memperhatikan halhal berikut :[19]
a)            Berguru secara musyafahah, bertemu langsung dengan guru.
b)            Hendaknya membaca Quran  dalam keadaan berwudlu, karena ia termasuk dzikir yang paling utama, meskipun boleh membacanya bagi orang yang berhadast.
c)            Membacanya hanya di tempat yang bersih dan suci, untuk menjaga keagungan Al-Quran.
d)           Membacanya dengan khusyuk, tenang dan bersahaja.
e)            Bersiwak (membersihkan mulut) sebelum mulai membaca.
Membaca taáwwuz  (audzu billahi minasysyaitanir rajim) pada permulaannya.
f)             Membaca basmalah pada permulaan setiap surah, kecuali surah AlBaraáh.
Membacanya dengan tartil yaitu dengan pelan dan terang serta memberikan setiap huruf haknya (betul makhrajul hurf dan tajwidnya), seperti panjangnya, idgamnya, dsb.
Memikirkan dan mentadabburi  ayatayat yang dibacanya.
g)            Meresapi makna dan maksud ayatayat Quran yang berhubungan dengan janji dan ancaman.
h)            Membaguskan suara karena itu akan lebih berasa di hati. Nabi SAW bersabda : Hiasilah Al-Quran dengan suaramu (HR Ibnu Hibban)
i)              Mengeraskan bacaan jika dianggap lebih baik dan tidak menimbulkan riya.
Mengajarkan Al-Qur’an dan Menerima Honor dari Mengajarkannya
Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.
Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut.Wallahu A’lam.
Ada sebuah riwayat yang dapat kita jadikan dasar pemikiran dalam hal menerima honor (upah) dari mengajarkan al-Qur’an : Hadits riwayat Imam Bukhari, Jilid 3, Nomor 476: Diriwayatkan dari Abu Sa’id r.a.:
Beberapa Sahabat Nabi dalam suatu perjalanan, sampailah di sebuah kampung (di malam hari). Mereka meminta penduduk kampung tersebut untuk memperlakukan mereka sebagai tamu, namun penduduk kampung tersebut menolak untuk menjamu mereka. Sang kepala suku kampung Arab tersebut kemudian digigit ular (atau tersengat kalajengking) dan para penduduk tersebut mencoba sekuat tenaga untuk menyembuhkannya, namun gagal.
Beberapa di antara mereka berkata, “Tak satu pun yang dapat membuatnya sembuh, coba pergilah kalian ke orang-orang itu (para sahabat Nabi) yang bermalam di sana, mungkin ada di antara mereka yang memiliki obat”. Mereka pun pergi ke tempat para Sahabat dan berkata “Pemimpin kami telah digigit ular (atau tersengat kalajengking) dan kami telah mencoba berbagai cara namun ia tak sembuh-sembuh juga. Apakah kalian memiliki sesuatu (untuk menyembuhkannya)?” Salah seorang di antara Sahabat Nabi SAW tersebut menjawab “Ya, Demi Allah! Aku dapat membacakan Ruqya (mantera), tapi karena kalian telah menolak untuk menerima kami sebagai tamu, aku tak akan membacakan Ruqya bagi kalian, kecuali bila kalian memberikan upah atasnya.”
Mereka pun setuju untuk membayar para Sahabat tersebut dengan sejumlah domba. Salah seorang dari para Sahabat Nabi SAW itu kemudian pergi dan membaca Al-Fatihah: ‘Segala puji adalah bagi Tuhan sekalian alam’ dan meludahkannya ke sang kepala suku, yang seketika itu menjadi sehat kembali seakan-akan ia baru terlepas dari kungkungan rantai, dan bangkit serta mulai berjalan, tanpa menunjukkan tanda-tanda sakit.
Mereka pun membayar para Sahabat sejumlah kambing seperti yang telah disetujui. Beberapa di antara para Sahabat, kemudian menyarankan untuk membagi pendapatan mereka tersebut di antara mereka sendiri, tapi Sahabat yang melakukan pembacaan Ruqyah tadi mengatakan, “Jangan membagi-bagi upah ini hingga kita pergi menghadap pada Nabi SAW dan menceritakan keseluruhan peristiwa tadi pada beliau, dan menunggu perintah beliau.”
Maka, mereka pun pergi ke Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa itu. Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana kamu tahu bahwa Al-Fatihah itu dapat dipakai sebagai Ruqya?” Kemudian beliau SAW menambahkan, “Kalian telah melakukan hal yang benar. Bagilah (apa yang telah kalian peroleh) dan berilah pula bagiku bagianku.” Nabi SAW pun tersenyum.
BAB III PENUTUP
Penutup
Karena keterbatasan penulis, tidak semua hal yang berhubungan dengan qira’at al-Qur’an tercakup dalam makalah ini, terutama contoh-contoh ayat al-Qur’an yang menjadi perbedaan bacaan. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang telah diwariskan para ulama terdahulu, amin.

                                                             DAFTAR PUSTAKA

Akaha, Abduh Zulfikar, Al-Qur’an dan Qira’ah, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1996.
Anwar, Abu, Drs, M.Ag, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar, Jakarta : Amzah, 2002.
Al A’zami, M. M., Sejarah Teks Al-Qur’an, Dari Wahyu Sampai Kompilasi, terj. Sohirin Solihin dkk, Jakarta : Gema Insani Press, 2005.
Chirzin, Muhammad, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1998.
Denffer, Ahmad Von, ‘Ulum al-Qur’an An Introduction to Sciences of the Qur’an, Liecester: The Islamic Foundation, 1989.
Esack, Farid, The Qur’an : A User’s Guide, Oxford : Oneworld Publication, 2007.
Khon, Abdul Majid, Praktikum Qira’at; Keanehan Bacaan Al-Qur’an Qira’at Ashim dari Hafash, Jakarta : Amzah, 2008.
Al-Munawar, Said Agil Husin, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta : Ciputat Press, 2003.
An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam, At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, tk..
Ash Shiddieqy, M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir, Jakarta : Bulan Bintang, 1992.
Thabathaba’i, MH., Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, terj. A. Malik Madani dan Hamim Ilyas, Bandung : Mizan, 1990.
Shihab, Quraish M. dan tim, Sejarah dan ‘Ulum al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.
Syamsuddin, Hatta, Ringkasan  Praktis Sistematis dari Terjemahan Kitab ” Mabahits Fi Ulumil Qur’an” karya Syeikh Manna’ul Qathan, dengan beberapa tambahan, catatan dan penyesuaian, PESANTREN MAHASISWA ARROYAN SURAKARTA, 2008 M / 1430 H.
Watt, W. Montgomery, Bell, Richard, Pengantar al-Qur’an, Terj. Lilian D. Tedjasudhana, Jakarta: INIS, 1998.
Az-Zanjani, Abu Abdullah, Tarikh Al-Qur’an, terj. Kamaluddin Marzuki Anwar, Bandung : Mizan, 1993.


[1] HR. Bukhari, Lafadz yang hampir sama terdapat pada riwayat An-Nasa’i.
[2] Abdul Majid Khon, Praktikum Qira’at; Keanehan Bacaan Al-Qur’an Qira’at Ashim dari Hafash, Jakarta : Amzah, 2008, hlm. 33-34.
[3] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an / Tafsir, Jakarta : Bulan Bintang, 1992, hlm. 68. Hal ini disebabkan karena terdapat kata-kata dalam al-Qur’an yang berasal dari bahasa lain, seperti istibraq (Yunani), sijjil (Parsi), haunan (Suryayi), shirath (Rum).
[4] Ahmad Von Denffer, ‘Ulum al-Qur’an An Introduction to Sciences of the Qur’an, Liecester: The Islamic Foundation, 1989. hlm. 73.
[5] Ibid..
[6] M. M. Al A’zami, Sejarah Teks Al-Qur’an, Dari Wahyu Sampai Kompilasi, terj. Sohirin Solihin dkk, Jakarta : Gema Insani Press, 2005, hlm. 73. Ada perbedaan istilah yang dipakai oleh penulis buku ini dengan apa yang dipakai oleh orientalis, yaitu multiple reading dan variant reading.
[7] Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1998, hlm. 85.
[8] Ibid.
[9] Abduh Zulfikar Akaha, Al-Qur’an dan Qira’ah, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 1996, hlm. 194.
[10] MH. Thabathaba’i, Mengungkap Rahasia Al-Qur’an, terj. A. Malik Madani dan Hamim Ilyas, Bandung : Mizan, 1990, hlm. 138.
[11] M. M. Al A’zami, Sejarah Teks Al-Qur’an, Dari Wahyu Sampai Kompilasi, terj. Sohirin Solihin dkk, Jakarta : Gema Insani Press, 2005, hlm. 73.
[12] HR. Bukhari.
[13] M. M. Al A’zami, Sejarah Teks Al-Qur’an, Dari Wahyu Sampai Kompilasi, terj. Sohirin Solihin dkk, Jakarta : Gema Insani Press, 2005, hlm. 74.
[14] Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1998, hlm. 88.
[15] Ahmad Von Denffer, ‘Ulum al-Qur’an An Introduction to Sciences of the Qur’an, Liecester: The Islamic Foundation, 1989.  hlm. 83.
[16] Ahmad Von Denffer, ‘Ulum al-Qur’an An Introduction to Sciences of the Qur’an, Liecester: The Islamic Foundation, 1989. hlm. 84.
[17] Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1998, hlm. 92.
[18] Hatta Syamsuddin, Ringkasan  Praktis Sistematis dari Terjemahan Kitab ” Mabahits Fi Ulumil Qur’an” karya Syeikh Manna’ul Qathan, dengan beberapa tambahan, catatan dan penyesuaian, PESANTREN MAHASISWA ARROYAN SURAKARTA, 2008 M / 1430 H.
[19] Abdul Majid Khon, Praktikum Qira’at; Keanehan Bacaan Al-Qur’an Qira’at Ashim dari Hafash, Jakarta : Amzah, 2008, hlm. 36-50. Lihat juga Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi, At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, tk.. hlm. 50-90.
11 Okt